KONSEP PENANGANAN ALUR DI BELOKAN DALAM RANGKA PENGELOLAAN SUNGAI DI SULAWESI TENGAH

M. Galib Ishak

Abstract


Provinsi Sulawesi Tengah memiliki 6 buah Satuan Wilayah Sungai (SWS) diantaranya SWS Buol-Lambunu, SWS Parigi-Poso, SWS Bongka-Malik, SWS Lombok-Mentawa, SWS Laa-Tambalako dan SWS Palu-Lariang, dan terdiri dari sekitar 157 buah sungai dan tidak termasuk sungai-sungai kecil yang berfungsi sebagai anak-anak sungai. Terdapat beberapa sungai besar dengan debit relatif konstan sepanjang tahun seperti Sungai Poso (Luas DAS ± 1101.87 km2 dan panjang sungai ± 68.70 km ), Sungai Bongka (Luas DAS ± 3085 km2 dan panjang sungai ± 122 km), Sungai Laa (Luas DAS ± 2875.60 km2 dan panjang sungai ± 96.30 km), Sungai Tambalako (Luas DAS ± 1045.60 km2 dan panjang sungai ± 83.70 km), Sungai Gumbasa (Luas DAS ± 1276.65 km2 dan panjang sungai ± 61.50 km) dan Sungai Palu (Luas DAS ± 3043 km2 dan panjang sungai ± 90 km). Secara umum, konfigurasi memanjang sungai-sungai tersebut memiliki profil berbelok-belok (bermeander) akibat proses morfodinamik sungai yang terjadi secara terus menerus, yang ditandai dengan belokan-belokan ringan dengan sudut belokan besar sampai belokan-belokan berat dengan sudut belokan kecil. Pada dasarnya belokan sungai memiliki arti penting terhadap fenomena hidraulis aliran di sungai. Konsep eko-hidraulik memandang belokan sungai sebagai  wahana retensi untuk mereduksi akumulasi aliran banjir di hilir. Namun sebaliknya belokan sungai juga justru menjadi faktor penyebab terjadinya luapan banjir dan terjadinya gerusan lokal di sisi luar belokan. Kedua potensi tersebut harus dikelola secara bijak sehingga permasalahan yang timbul bisa direduksi dan manfaat/potensi yang dimilki dapat dioptimalkan. Oleh karena itu perlu dikemukakan konsep-konsep pengelolaan dan penanganan sehingga belokan sungai memiliki potensi yang baik dalam pengelolaan sungai dan pengendalian banjir.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.